Social Icons

Pages

Kamis, 22 September 2011

Ayo.. Bantu Pasangan Anda Masturbasi!

Tiap perempuan memiliki anatomi dan keadaan psikologi yang tak selalu sama. Ini menyebabkan tiap perempuan bermasturbasi dengan cara dan teknik berbeda.

Masturbasi mengajarkan hal yang sangat penting, yaitu bagaimana tubuh merespon rangsangan seksual. Ini penting sebagai kunci menikmati aktivitas seksual dalam bentuk yang lain.

Masturbasi memberi kesempatan kepada tiap orang menjelajahi tubuh sekaligus memberikan tingkat kebebasan seksual yang tinggi, tanpa perlu tergantung pada pasangan. Ini berlaku bagi pria maupun wanita.

Namun perlu diingat, masturbasi bukan berarti aktivitas seksual tunggal, namun bisa pula menjadi sarana untuk berbagi. Bagi perempuan yang telah mengenali tubuh mereka dengan baik, mereka sebenarnya bisa memberikan arahan yang tepat bagi pasangan agar bisa mendapatkan cara terbaik untuk mencapai orgasme.

Cara ini bisa menjadi alternatif saat Anda menginginkan ML, sementara keadaan sedang tidak memungkinkan. Begitu pula saat pasangan Anda sedang tidak memiliki gairah untuk ML, Anda masih bisa tetap mendapatkan kesenangan dengan melakukan sendiri atau meminta bantuan pasangan Anda.

Dalam kehidupan nyata, banyak kebutuhan seksual perempuan tidak terpenuhi secara penuh oleh pasangan mereka, meskipun mereka terlihat sebagai pasangan romantis.

Jadi, bila pasangan Anda telah mencapai ejakulasi sedangkan Anda belum mendapatkan orgasme, jangan malu-malu meminta bantuannya saat Anda menginginkan orgasme melalui masturbasi

Rabu, 25 Mei 2011

Ini Dia, Fakta Seputar Sperma





INILAH.COM, Jakarta - Sudah jadi rahasia umum jika tugas sperma adalah membuahi sel telur, namun tak banyak yang tahu di balik ‘rutinitasnya’ itu ada fakta lain yang perlu Anda tahu tentang sperma. Seperti apa?

Sperma hasil bercinta lebih OK

Kelompok peneliti dari University of Kentucky, Lexington membandingkan kualitas air mani yang keluar saat bercinta dan saat masturbasi. Dari riset ini disebutkan sperma hasil ejalukasi hubungan intim memiliki motility (daya gerak sperma meraih indung telur) dan rangsangan yang lebih baik ketimbang sperma yang keluar saat masturbasi.

Dalam hal ini foreplay juga turut berperan, karena pemanasan dengan berbagai variasi mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma.

Rasa sperma tergantung asupan makanan

Dalam beberapa hal benar yang bergantung pada asupan makanan manis atau pedas. Namun sperma memiliki citarasa tersendiri yang dapat memblokir rasa lainnya.

Konsumsi alkohol mempengaruhi sperma

Alkohol mempengaruhi sperma secara tidak langsung. Konsumsi alkohol berlebih secara teratur akan mengurangi potensi reproduksi pria.

Warna sperma pengaruhi kuantitas hubungan

Beberapa hal dapat dideteksi dari warna. Kita bisa menentukan jumlah dan konsentrasi yang akan mempengaruhi warna sperma. Makin banyak dan padat bentuk sperma, menandakan jumlah sperma makin besar dan kemungkinan si pria sudah lama tidak bercinta.

Tidak hubungan seks dapat meningkatkan jumlah sperma

Benar, namun jangan berlebihan. Pria harus mengeluarkan sperma setelah 7-10 hari atau kinerja sperma akan menurun. Hubungan intim sebanyak dua kali seminggu mendekati hari-hari ovulasi adalah waktu paling sempurna bila menginginkan kehamilan.

Sperma bisa menyebabkan alergi

Sebuah studi yang digelar Universitas Cincinanti College of Medicine yang melibatkan beberapa responden wanita menyebutkan sperma bisa membuat kulit iritasi, panas, memerah dan menyebabkan alergi.

Orgasme pertama sperma keluar 'hebat'

Dalam bukunya Everything You Always Wanted to Know About Sex But Were Afraid To Aks, Dr. Reuben menulis alasan kenapa saat orgasme pertama pria cenderung menyemburkan sperma lebih kuat dan lebih banyak.

Reuben menyebutkan hal tersebut tergantung dari jumlah air mani yang ada pada Mr. P, kantung air mani dan kelenjar prostat.

Selain juga disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya kualitas dan kuantitas rangsangan fisik yang diterima pria atau kondisi fisik dan mood si pria. Apakah sedang mabuk, lelah atau stres?

Namun dari semua itu Reuben mengatakan sebenarnya otaklah yang mampu mengendalikan keadaan fisik dan mental. [mor]

Senin, 11 April 2011

Perangkap Seks Di Dunia Maya

Anda suka surfing di Internet? Kalau 'ya', Anda mungkin pernah chatting atau ber-cyber-love atau mungkin ber-cyber-sex dengan 'lawan main'; Anda. Atau barangkali Anda suka membuka situs-situs 'triple X' yang begitu 'memukau' dan membuat kadar testosteron Anda naik ke ubun-ubun?

Kalau cuma sesekali, barangkali masih normal. Namun, kalau Anda sudah kecanduan dan susah melupakan kebiasaan itu, Anda mesti waspada. Akibatnya bisa fatal, perilaku berubah, kinerja belajar, hubungan suami-istri amburadul, rumah tangga bisa hancur bahkan bercerai. Lho?!

Psikolog Amerika, Kimberley Young menyatakan, banyak perkawinan yang berumur 15, 20, atau 25 tahun dapat berakhir hanya karena tiga atau empat bulan cyber-affair, perselingkuhan siber.

Kehidupan modern memang membuat jangkauan pergaulan meluas, sementara energi sosialisasi kita terbatas. Untungnya, teknologi komunikasi mampu memberi pijakan baru dalam relasi ini. Salah satu di antaranya adalah internet, sebuah penemuan terbesar dalam abad ini. Saking kuatnya pijakan itu, internet menjadi bagian tidak terpisahkan dari evolusi sosialisasi manusia.

Namun, setiap perkembangan selalu memunculkan wajah buruknya, di samping manfaatnya. Wajah buruk itu terwakili oleh perselingkuhan siber dan kecanduan seks di internet. Memang, internet tidak saja memberikan informasi ilmu pengetahuan, tapi juga materi-materi pornografis. Maka, kalau ada orang bilang, manusia adalah binatang seks, wajar saja jika kemudian muncul fenomena kecanduan seks di Internet.

Internet memang bak rimba perawan nan menantang. Survai yang dilakukan psikolog David Greenfield awal tahun ini menunjukkan, 6% dari 18.000 responden kecanduan berselancar di Intenet. Angka ini jika diproyeksikan ke jumlah penduduk Amerika, akan menemukan angka yang fantastis: jutaan orang menemukan 'obat' baru!

Dalam pertemuan tahunan Asosiasi Psikolog Amerika Greenfield mengatakan, kecanduan internet memiliki kesamaan gejala dengan kecanduan obat bius. Laporannya menemukan, mereka yang kecanduan Internet menyatakan 'hampir selalu' kehilangan jejak waktu.

Memang dalam penelitian itu terungkap, 83% keasyikan berselancar. Lebih tegas lagi, 58% di antaranya ingin menghabiskan lebih banyak lagi waktu berselancar.

Hasil penelitian Greenfield juga menemukan bahwa profil orang yang kecanduan adalah lelaki dengan rentang usia antara 25 dan 55. Rata-rata mereka berpendidikan tinggi dan berpenghasilan tinggi. Sebuah survai lain yang dilakukan tahun lalu juga menemukan angka yang klop: 86% dari peselancar lelaki di Amerika tertarik terhadap online sex. Delapan persen di antaranya bahkan menghabiskan waktu 11 jam seminggu hanya untuk melongok situs-situs porno.

Persoalan komunikasi memang bisa menjadi penyebab orang lari ke cybersex. Biasanya ini menyerang lelaki. Kaum adam memang memiliki kekurangan dalam komunikasi verbal untuk mengemukakan perasaan mereka.

Untuk membedah kekurangan, perlu ditarik ke belakang, yakni dalam proses sosialisasi. Di sini lelaki memperoleh perlakuan yang berbeda dalam persoalan mengungkapkan perasaan. Contoh, anak lelaki yang jatuh terus kesakitan. Lingkungan akan bilang, "Udah, kamu 'kan lelaki. Masak gitu saja kesakitan." Padahal, dalam soal perasaan lelaki dan wanita sama saja.

Perbedaan mencolok lainnya, lelaki terangsang oleh stimulus visual atau pengamatan, sedangkan perempuan oleh stimulus pendengaran. Perempuan lebih suka dirayu daripada diperlihatkan sosok lelaki telanjang.

Selain itu, persoalan fisik juga berpengaruh terhadap rangsangan seksual. Wanita, jika kecapaian, dorongan seksualnya menurun. Berbeda dengan lelaki yang meski lelah seharian bekerja dia masih memiliki dorongan seksual. Ibarat argometer atau mesin diesel, dorongan seksual lelaki jalan terus. Nah, untuk menyalurkan dorongan itulah, situs seks yang 'on' terus 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu mungkin bisa menjadi semacam 'solusi'.

Sabtu, 05 Maret 2011

Fantasi Seks Di Dunia Maya Makin Diminati

Wah.. gawat kalau kaum lelaki sudah kecanduan cybersex ! Penelitian menunjukkan fantasi seks onlinecybersex berat yang memiliki fantasi seks online sangat tinggi sehingga justru berpotensi mengganggu kehidupan offline-nya. Demikian hasil sebuah penelitian yang diumumkan di San Fransisco, dimana belum lama ini dilansir Reuters.
"Kami menemukan bahwa banyak orang menggunakan Internet untuk aktivitas seksual. Dan kami ingin tahu sejauh mana hal itu mangganggu kehidupannya," ujar Dr. Al Cooper pemimpin survei dari Marital and Sexuality Center, San Jose, California.

Cooper, yang telah beberapa kali memimpin survei untuk menyelidiki dunia seks di Internet, mengatakan penelitian terakhirnya ini bertujuan untuk mengidentifikasi orang-orang yang beresiko ketagihan cybersex.

Dengan melakukan penyaringan dari 40.000 jawaban jajak pendapat yang dikirimkan ke situs MSNBC, Cooper mempelajari jawaban dari 7.000 responden laki-laki, dan mendapatkan kelompok yang lebih kecil lagi yakni sebanyak 384 orang, yang diindikasikan memiliki masalah aktivitas seksual online.

Responden di kelompok kecil itu mengakui bahwa mereka tidak bisa melepaskan dari dari cybersex, dan melakukan aktivitas seksual online-nya sekitar 5,7 jam per minggu, atau dua kali lebih banyak dari orang lain yang mengikuti jajak pendapat.

"Aktivitas yang mereka lakukan beragam. Yang paling banyak adalah menjelajahi situs-situs porno dan melakukan chatting seks," ungkap Cooper sambil menjelaskan bahwa orang-orang itu mengaku mengakses seks online untuk melepaskan stres, bukan mencari hiburan atau informasi seks lain.

"Orang-orang lari kepada seks online, dan bukan bersosialisasi dengan orang-orang lain," lanjut Cooper. "Sebenarnya banyak cara menghilangkan stres yang lebih sehat."

Namun dikatakan Cooper, apa yang dinikmati orang-orang secara online itu tidak selalu ingin mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. "Mereka mungkin menikmati tontonan seks yang tidak wajar, seperti melakukannya dengan binatang, seks beramai-ramai, atau seks sejenis, namun mereka kebanyakan tidak ingin melakukannya dalam kehidupan mereka," tandas Cooper.

"Hal ini memang mempertegas perbedaan kehidupan online dan offline," kata Cooper. "Internet mungkin memberi keuntungan karena Anda tidak perlu mencoba hal-hal tidak wajar, namun fantasi yang ditinggalkannya mungkin akan mengganggu dan menimbulkan banyak anggapan keliru tentang orang-orang lain dan tingkah laku seksual mereka."

Gangguan itu, lanjut Cooper, akan mulai tampak ketika seseorang tidak bisa meninggalkan kebiasaan beraktivitas online, atau memilih ?bercumbu? dengan komputer daripada melakukan aktivitas seksual dengan pasangannya.

Hal tersebut dipertegas dengan temuan Cooper bahwa responden yang diindikasikan memiliki ketergantungan pada cybersex ternyata berkurang aktivitas seksualnya pada kehidupan sebenarnya. Mereka seolah memiliki dua kehidupan seksual yang berbeda.

Seperti diketahui, data statistik antara bulan Desember 1999 dan Februari 2001 menunjukkan pengunjung situs seks tumbuh lebih dari 27 persen, sehingga mencapai 28 juta orang dari 22 juta sebelumnya. Padahal pada waktu yang sama, jumlah pengunjung situs-situs belanja hanya tumbuh separuhnya.

"Kami meramalkan jumlah itu akan terus bertambah," kata Cooper yang menjanjikan akan melakukan penelitian lebih luas lagi, melibatkan responden wanita yang diyakini ketergantungannya pada cybersex lebih kecil.

Jumat, 04 Maret 2011

Memahami Penyebab Kecanduan Seks Cyber

Saat ini, pemuasan hasrat seksual melalui internet tidak hanya dialami oleh orang-orang yang berperilaku seksual menyimpang, namun mereka yang sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal dan psikiatri pun telah terlibat dalam perilaku seperti ini. ACE Model of Cybersexual Addiction digunakan untuk menjelaskan bagaimana internet telah menciptakan sebuah iklim budaya permisif, yang mendorong dan mensahkan perilaku-perilaku seksual menyimpang.

ACE Model memeriksa anonimitas interaksi-interaksi online yang meningkatkan perilaku seksual menyimpang tersebut dan kemungkinan tersedianya pornografi dunia cyber dengan mudah untuk para pengguna, yang akhirnya menjadi tempat pelarian untuk ketegangan mental dan memperkuat pola perilaku yang mengarah pada kecanduan.

Transaksi-transaksi elektronik yang anonim membantu para pengguna merasa memiliki kendali lebih besar terhadap isi, corak dan sifat dari pengalaman seksual online. Tidak seperti pengalaman-pengalaman seksual di dunia nyata, seorang wanita dapat dengan cepat berganti pasangan jika pasangan cyber-nya tidak memuaskan atau seorang pria dapat langsung ‘cabut’ setelah mencapai orgasme tanpa perlu mengucapkan selamat tinggal. Namun, bagaimana jika seorang pria secara diam-diam ingin mengetahui bagaimana rasanya berhubungan seks dengan sesama pria? Atau bagaimana jika seorang wanita ingin mencoba melakukan hubungan seks dalam keadaan terikat?

Dalam konteks anonim dunia cyber, pesan-pesan seksual konvensional telah ditiadakan, sehingga para pengguna dapat mewujudkan fantasi-fantasi seksual mereka yang terpendam tanpa ketakutan diketahui oleh orang lain. Bagi siapapun yang merasa penasaran tentang hubungan seks dalam keadaan terikat, seks berkelompok atau homoseksualitas, seks dunia cyber menawarkan cara yang aman, pribadi dan anonim. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab lebih cenderungnya para individu melakukan eksperimen seksual mereka melalui seks cyber.

Dunia industri memperkirakan bahwa pada bulan April 1998 saja, sekitar 9,6 juta orang (15% pengguna internet) mengunjungi 10 situs seks paling populer. Terdapat sekitar 70.000 situs yang berkaitan dengan seks, dengan kira-kira 200 situs baru, yang menyertakan pornografi dan ruang-ruang chatting interaktif, ditambahkan setiap harinya (Schwartz, 1998). Menjamurnya ruang-ruang chatting yang berorientasi seksual, telah menyediakan suatu sarana yang mendorong seseorang melakukan eksplorasi. Seorang suami atau istri yang penasaran, lalu secara diam-diam memasuki “Ruang Fetish” atau “Ruang Bisexual”, pada awalnya mungkin kaget dengan dialog-dialog yang erotis. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka juga terangsang secara seksual. Kemudahan fasilitas ini juga telah membantu mempromosikan eksperimen seksual di kalangan mereka, yang dalam keadaan normal tidak akan terlibat dalam perilaku seksual seperti itu.

Banyak yang percaya bahwa alasan utama seseorang melakukan tindakan seksual online adalah untuk pemuasan hasrat seksual. Namun, sejumlah penelitian telah memperlihatkan bahwa rangsangan seksual mungkin pada awalnya merupakan alasan seseorang untuk terlibat dalam seks cyber, namun, seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman tersebut kemudian berubah menjadi tempat pelarian dari ketegangan mental-emosional maupun keterbatasan diri. Sebagai contoh, seorang wanita yang kesepian tiba-tiba merasa bergairah oleh sekian banyak pasangan cyber-nya, atau seorang pria yang tidak percaya diri secara seksual berubah menjadi seorang kekasih cyber yang membara dan diinginkan oleh seluruh wanita di ruang chatting. Pengalaman-pengalaman ini bukan hanya memberikan pemuasan hasrat seksual, melainkan juga telah menjadi tempat pelarian mental yang subyektif, yang diperoleh melalui perkembangan kehidupan fantasi online di mana seseorang mengadopsi sebuah kepribadian dan identitas yang baru.

Gender secara signifikan juga mempengaruhi cara seseorang memandang seks cyber. Para wanita seringkali memilih seks cyber karena cara ini dapat membantu menyembunyikan penampilan fisik dan menghilangkan stigma sosial bahwa para wanita tidak boleh menikmati seks, serta memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi pada seksualitas mereka dengan cara-cara yang baru, aman dan tanpa batasan. Para pria umumnya memilih seks cyber karena cara ini dapat menghilangkan kegelisahan akan kemampuan seksual mereka, yang mungkin menjadi penyebab ejakulasi prematur atau impotensi, serta membantu menyembunyikan penampilan fisik pria-pria yang merasa tidak pede mengenai kebotakan, ukuran penis atau berat badan.

Para individu yang paling rapuh tampaknya adalah mereka yang rendah diri, menderita distorsi citra tubuh yang berat, disfungsi seksual yang tidak diobati atau riwayat kecanduan seksual sebelumnya.

Selasa, 15 Februari 2011

Testis Dapat Mengecil

Akibat proses penuaan, ukuran testis dapat mengecil. Pria yang semula subur dan dapat menghamili, kesuburannya dapat hilang akibat penurunan hormon testosteron. Perut gendut sering berkaitan dengan menurunnya kadar hormon testosteron. Bila kerusakan akibat pengecilan testis belum parah, kemungkinan masih bisa diperbaiki.

"Saya pria berumur 51, menikah lagi dua tahun lalu karena istri meninggal. Dari almarhumah istri, saya mendapat dua orang anak. Istri yang sekarang berumur 39 tahun, belum pernah menikah. Ia ingin punya anak dan sudah menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis. Hasilnya, istri dinyatakan normal dan masih bisa punya anak.

Yang sangat mengejutkan justru hasil pemeriksaan terhadap saya. Oleh dokter, saya dinyatakan mengalami pengecilan buah zakar dan sperma saya tidak subur. Sayangnya, dokter tidak menjelaskan mengapa zakar bisa mengecil dan mengapa sperma tidak subur. Saya kemudian diberi obat yang sudah saya konsumsi sejak empat bulan lalu.

Saya juga mengalami masalah kalau mau berhubungan dengan istri. Keinginan saya untuk berhubungan intim jarang sekali. Kalau ada keinginan, jarang bisa tegang dengan sempurna. Saya tidak mengalami penyakit apa pun, walaupun gemuk. Saya tidak merokok, tidak minum obat, selain yang dari dokter."

T.K. Jakarta

Akibat proses penuaan

Pengecilan ukuran testis dapat saja terjadi karena beberapa penyebab. Salah satunya adalah berkurangnya hormon testosteron dan hormon lain yang terkait karena proses penuaan. Penyebab lainnya adalah infeksi dan pelebaran pembuluh darah di bagian testis.

Mengecilnya ukuran testis juga menyebabkan munculnya gejala lain yang berkaitan dengan kadar hormon testosteron yang rendah, seperti dorongan seksual menurun, ereksi terganggu, dan perut menjadi gemuk. Tampaknya Anda juga mengalami gejala ini.

Sperma Anda yang dinyatakan tidak subur juga berkaitan dengan mengecilnya ukuran testis, yang terkait dengan penurunan hormon testosteron juga. Dari hasil pemeriksaan testis dan analisis sperma antara lain dapat diprediksi sejauh mana kerusakan dapat terjadi.

Kalau kerusakannya belum fatal, berarti masih ada kemungkinan untuk dapat diatasi dengan pengobatan. Untuk menentukan tingkat kerusakannya perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Konsultasi dijawab oleh Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

 
 
Blogger Templates