Social Icons

Pages

Jumat, 31 Mei 2013

Melawan Diabetes Sambil Tingkatkan Libido

Jakarta - Penderita diabetes yang memiliki kadar testosteron rendah dapat melakukan penggantian hormon testosteron. Selain untuk obat diabetes, juga ada bonus lain yaitu meningkatkan libido.



Testosteron merupakan hormon seks jantan yang terdapat pada pria maupun wanita. Hormon ini memegang peranan penting bagi kesehatan.



Dokter dan perawat biasanya menyarankan diet dan olahraga untuk penderita diabetes. Sebagian besar pasien diberi obat seperti metformin, untuk mengurangi kadar gula tinggi dan mengatasi gejala-gejala yang timbul. Tapi kini ada penawaran pengobatan baru yang radikal, yaitu dengan hormon testosteron pria.



Sekitar 40 persen pria dengan diabetes tipe 2 memiliki tingkat testosteron rendah, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu oleh Profesor Hugh Jones, seorang ahli endokrinologi di Barnsley Hospital.



Belum diketahui persis kaitan antara testosteron dengan diabetes, tetapi kenyataan bahwa testosteron rendah dapat meningkatkan jumlah penyebaran visceral fat yang merusak dan mengembangkan diabetes tipe 2.



Sebuah studi tahun lalu telah dilakukan pada 48 orang dengan diabetes dan kadar testosteron rendah, menemukan bahwa 80 persen dari mereka yang mendapat terapi hormon dan obat-obatan biasa untuk diabetes, berhasil mengendalikan tingkat gula dalam darah, resistensi tubuh terhadap insulin dan juga berat badan yang sehat.



Charles Lawson adalah salah satu penderita diabetes tipe 2 yang kelebihan berat badan. Dia tidak mengeluhkan tentang masalah ereksi, tetapi dokter memeriksa tingkat testosteron, tingkat gula darah, tekanan darah dan juga kolesterolnya. Testosteronnya sangat rendah, sehingga ia harus menggunakan gel testosteron setiap hari.



Menurut Lawson, berat badannya mulai turun dan kontrol gula darahnya pun membaik. Dan ia juga memiliki manfaat tambahan pada peningkatan libido.



"Biasanya pasien hanya diberikan testosteron jika mereka mengeluhkan disfungsi ereksi dan tidak merespons pil Viagra," kata Dr David Edwards, dokter spesialis pengobatan seksual Oxford, seperti dilansir dari Dailymail, Selasa (6/4/2010).



Tetapi menurut Dr Edwards, suplemen testosteron tidak hanya menjadi masalah dorongan seksual, testosteron rendah harus dihindari karena dapat menimbulkan banyak risiko kesehatan.



Tingkat testosteron rendah pada pria tidak hanya dikaitkan dengan diabetes. Sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan pada 800 pria diatas usia 50 tahun di University of California San Diego, menunjukkan bahwa testosteron rendah meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan kematian dari berbagai macam sebab.



Meskipun suplemen testosteron telah tersedia selama lebih dari 60 tahun, hormon ini masih memiliki reputasi buruk yang berhubungan dengan maniak seks, pembangun otot tubuh dan kemarahan.



Akibatnya, banyak dokter enggan meresepkan testosteron. Dokter biasanya hanya akan meresepkan testosteron bila pasien diabetes juga menderita disfungsi ereksi.

(Merry Wahyuningsih/ir)

 
 
Blogger Templates