Social Icons

Pages

Sabtu, 05 Maret 2011

Fantasi Seks Di Dunia Maya Makin Diminati

Wah.. gawat kalau kaum lelaki sudah kecanduan cybersex ! Penelitian menunjukkan fantasi seks onlinecybersex berat yang memiliki fantasi seks online sangat tinggi sehingga justru berpotensi mengganggu kehidupan offline-nya. Demikian hasil sebuah penelitian yang diumumkan di San Fransisco, dimana belum lama ini dilansir Reuters.
"Kami menemukan bahwa banyak orang menggunakan Internet untuk aktivitas seksual. Dan kami ingin tahu sejauh mana hal itu mangganggu kehidupannya," ujar Dr. Al Cooper pemimpin survei dari Marital and Sexuality Center, San Jose, California.

Cooper, yang telah beberapa kali memimpin survei untuk menyelidiki dunia seks di Internet, mengatakan penelitian terakhirnya ini bertujuan untuk mengidentifikasi orang-orang yang beresiko ketagihan cybersex.

Dengan melakukan penyaringan dari 40.000 jawaban jajak pendapat yang dikirimkan ke situs MSNBC, Cooper mempelajari jawaban dari 7.000 responden laki-laki, dan mendapatkan kelompok yang lebih kecil lagi yakni sebanyak 384 orang, yang diindikasikan memiliki masalah aktivitas seksual online.

Responden di kelompok kecil itu mengakui bahwa mereka tidak bisa melepaskan dari dari cybersex, dan melakukan aktivitas seksual online-nya sekitar 5,7 jam per minggu, atau dua kali lebih banyak dari orang lain yang mengikuti jajak pendapat.

"Aktivitas yang mereka lakukan beragam. Yang paling banyak adalah menjelajahi situs-situs porno dan melakukan chatting seks," ungkap Cooper sambil menjelaskan bahwa orang-orang itu mengaku mengakses seks online untuk melepaskan stres, bukan mencari hiburan atau informasi seks lain.

"Orang-orang lari kepada seks online, dan bukan bersosialisasi dengan orang-orang lain," lanjut Cooper. "Sebenarnya banyak cara menghilangkan stres yang lebih sehat."

Namun dikatakan Cooper, apa yang dinikmati orang-orang secara online itu tidak selalu ingin mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. "Mereka mungkin menikmati tontonan seks yang tidak wajar, seperti melakukannya dengan binatang, seks beramai-ramai, atau seks sejenis, namun mereka kebanyakan tidak ingin melakukannya dalam kehidupan mereka," tandas Cooper.

"Hal ini memang mempertegas perbedaan kehidupan online dan offline," kata Cooper. "Internet mungkin memberi keuntungan karena Anda tidak perlu mencoba hal-hal tidak wajar, namun fantasi yang ditinggalkannya mungkin akan mengganggu dan menimbulkan banyak anggapan keliru tentang orang-orang lain dan tingkah laku seksual mereka."

Gangguan itu, lanjut Cooper, akan mulai tampak ketika seseorang tidak bisa meninggalkan kebiasaan beraktivitas online, atau memilih ?bercumbu? dengan komputer daripada melakukan aktivitas seksual dengan pasangannya.

Hal tersebut dipertegas dengan temuan Cooper bahwa responden yang diindikasikan memiliki ketergantungan pada cybersex ternyata berkurang aktivitas seksualnya pada kehidupan sebenarnya. Mereka seolah memiliki dua kehidupan seksual yang berbeda.

Seperti diketahui, data statistik antara bulan Desember 1999 dan Februari 2001 menunjukkan pengunjung situs seks tumbuh lebih dari 27 persen, sehingga mencapai 28 juta orang dari 22 juta sebelumnya. Padahal pada waktu yang sama, jumlah pengunjung situs-situs belanja hanya tumbuh separuhnya.

"Kami meramalkan jumlah itu akan terus bertambah," kata Cooper yang menjanjikan akan melakukan penelitian lebih luas lagi, melibatkan responden wanita yang diyakini ketergantungannya pada cybersex lebih kecil.

Jumat, 04 Maret 2011

Memahami Penyebab Kecanduan Seks Cyber

Saat ini, pemuasan hasrat seksual melalui internet tidak hanya dialami oleh orang-orang yang berperilaku seksual menyimpang, namun mereka yang sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal dan psikiatri pun telah terlibat dalam perilaku seperti ini. ACE Model of Cybersexual Addiction digunakan untuk menjelaskan bagaimana internet telah menciptakan sebuah iklim budaya permisif, yang mendorong dan mensahkan perilaku-perilaku seksual menyimpang.

ACE Model memeriksa anonimitas interaksi-interaksi online yang meningkatkan perilaku seksual menyimpang tersebut dan kemungkinan tersedianya pornografi dunia cyber dengan mudah untuk para pengguna, yang akhirnya menjadi tempat pelarian untuk ketegangan mental dan memperkuat pola perilaku yang mengarah pada kecanduan.

Transaksi-transaksi elektronik yang anonim membantu para pengguna merasa memiliki kendali lebih besar terhadap isi, corak dan sifat dari pengalaman seksual online. Tidak seperti pengalaman-pengalaman seksual di dunia nyata, seorang wanita dapat dengan cepat berganti pasangan jika pasangan cyber-nya tidak memuaskan atau seorang pria dapat langsung ‘cabut’ setelah mencapai orgasme tanpa perlu mengucapkan selamat tinggal. Namun, bagaimana jika seorang pria secara diam-diam ingin mengetahui bagaimana rasanya berhubungan seks dengan sesama pria? Atau bagaimana jika seorang wanita ingin mencoba melakukan hubungan seks dalam keadaan terikat?

Dalam konteks anonim dunia cyber, pesan-pesan seksual konvensional telah ditiadakan, sehingga para pengguna dapat mewujudkan fantasi-fantasi seksual mereka yang terpendam tanpa ketakutan diketahui oleh orang lain. Bagi siapapun yang merasa penasaran tentang hubungan seks dalam keadaan terikat, seks berkelompok atau homoseksualitas, seks dunia cyber menawarkan cara yang aman, pribadi dan anonim. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab lebih cenderungnya para individu melakukan eksperimen seksual mereka melalui seks cyber.

Dunia industri memperkirakan bahwa pada bulan April 1998 saja, sekitar 9,6 juta orang (15% pengguna internet) mengunjungi 10 situs seks paling populer. Terdapat sekitar 70.000 situs yang berkaitan dengan seks, dengan kira-kira 200 situs baru, yang menyertakan pornografi dan ruang-ruang chatting interaktif, ditambahkan setiap harinya (Schwartz, 1998). Menjamurnya ruang-ruang chatting yang berorientasi seksual, telah menyediakan suatu sarana yang mendorong seseorang melakukan eksplorasi. Seorang suami atau istri yang penasaran, lalu secara diam-diam memasuki “Ruang Fetish” atau “Ruang Bisexual”, pada awalnya mungkin kaget dengan dialog-dialog yang erotis. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka juga terangsang secara seksual. Kemudahan fasilitas ini juga telah membantu mempromosikan eksperimen seksual di kalangan mereka, yang dalam keadaan normal tidak akan terlibat dalam perilaku seksual seperti itu.

Banyak yang percaya bahwa alasan utama seseorang melakukan tindakan seksual online adalah untuk pemuasan hasrat seksual. Namun, sejumlah penelitian telah memperlihatkan bahwa rangsangan seksual mungkin pada awalnya merupakan alasan seseorang untuk terlibat dalam seks cyber, namun, seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman tersebut kemudian berubah menjadi tempat pelarian dari ketegangan mental-emosional maupun keterbatasan diri. Sebagai contoh, seorang wanita yang kesepian tiba-tiba merasa bergairah oleh sekian banyak pasangan cyber-nya, atau seorang pria yang tidak percaya diri secara seksual berubah menjadi seorang kekasih cyber yang membara dan diinginkan oleh seluruh wanita di ruang chatting. Pengalaman-pengalaman ini bukan hanya memberikan pemuasan hasrat seksual, melainkan juga telah menjadi tempat pelarian mental yang subyektif, yang diperoleh melalui perkembangan kehidupan fantasi online di mana seseorang mengadopsi sebuah kepribadian dan identitas yang baru.

Gender secara signifikan juga mempengaruhi cara seseorang memandang seks cyber. Para wanita seringkali memilih seks cyber karena cara ini dapat membantu menyembunyikan penampilan fisik dan menghilangkan stigma sosial bahwa para wanita tidak boleh menikmati seks, serta memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi pada seksualitas mereka dengan cara-cara yang baru, aman dan tanpa batasan. Para pria umumnya memilih seks cyber karena cara ini dapat menghilangkan kegelisahan akan kemampuan seksual mereka, yang mungkin menjadi penyebab ejakulasi prematur atau impotensi, serta membantu menyembunyikan penampilan fisik pria-pria yang merasa tidak pede mengenai kebotakan, ukuran penis atau berat badan.

Para individu yang paling rapuh tampaknya adalah mereka yang rendah diri, menderita distorsi citra tubuh yang berat, disfungsi seksual yang tidak diobati atau riwayat kecanduan seksual sebelumnya.
 
 
Blogger Templates