Social Icons

Pages

Kamis, 29 Maret 2007

Tahun 2016, Virtual Seks Makin 'Menggila'

Walau tidak berhubungan secara fisik, melakukan fantasi seks secara virtual atau cybersex juga dikategorikan dengan berselingkuh.

Sebut saja, Elissa (43), wanita pecinta Internet yang merupakan istri dari seorang pelaut dan mempunyai dua anak yang masih sekolah. Elissa banyak menghabiskan waktu bekerjanya di depan komputer rumah.

Saat mulai lelah bekerja, Elissa mencari kesenangan dengan menghabiskan waktu di chatroom orang dewasa dan melakukan cybersex. "Bila suamiku tahu, saya rasa dia tidak akan menyukai hal ini," jelas Elissa.

Kegemaran Elissa berfantasi seks virtual tersebut, diketahui lantaran sang suami berlayar selama lebih dari 14 tahun.

Melakukan seks virtual melalui pembicaraan di chatroom, menurut psikologis Dr Janet Hall, merupakan perbuatan yang bisa dikategorikan selingkuh. "Bila Anda bertanya, apakah ini selingkuh? Secara empati saya akan menjawab, ya, ini selingkuh," jelas Dr Hall.

Menurut Dr. Hall, selama suatu hubungan antara satu orang dengan orang lainnya sudah mulai terbuka dari informasi fisik, rahasia pribadi dan informasi kehidupan serta mencampurkan unsur emosi, hal tersebut sudah disebut sebagai selingkuh.

Cybersex Makin 'Menggila'

Cybersex sering dipergunakan oleh mereka yang awalnya sekedar mencari kesenangan saja. Walau tampak tidak membahayakan karena tidak terjadi kontak fisik, namun kasus kecanduan akan kenikmatan virtual ini semakin hari semakin membengkak.

Melihat fenomena tersebut, menurut Julia Heiman, kepala Riset bidang seks,
gender dan reproduksi di Kinsey Institute, menuju tahun 2016, virtual seks akan sangat berkembang.

"Menuju tahun 2016, virtual seks akan tumbuh dan memberikan pengalaman multi sensual," tutur Julia seperti dikutip detikINET dari Sydney Morning Herald, Kamis (05/10/2006).
(amz/dwn/Annisa M Zakir)

Sumber: detikcom

Jumat, 16 Maret 2007

Pornografi Akibatkan Gangguan Perilaku

SEMARANG- Pornografi yang merebak melalui teknologi internet disinyalir dapat mengakibatkan efek negatif bagi remaja. Dorongan seksual yang tidak dimanajemen dengan benar mengakibatkan penyimpangan perilaku, disfungsi seksual, dan penyakit menular seksual.

Pada diskusi bertema ''Pornografi di Internet dan Bahayanya'' yang diselenggarakan jurusan Ilmu Komputer Unika Soegijapranata, Senin (12/7), diungkap fenomena pornografi dalam dunia maya.

Seksolog remaja Pilar PKBI Jateng dr Setyawan mengatakan, keinginan remaja untuk melihat situs porno dapat dimaklumi. Kematangan organ reproduksi, menurut Setyawan, mendorong keinginan untuk menyalurkan kebutuhan biologis.

Merujuk hasil penelitian Pusat Informasi dan Layanan Remaja (Pilar) PKBI Jateng September 2002, sebanyak 87,9% responden mahasiswa dari delapan universitas di Kota Semarang mengaku pernah menonton film atau gambar porno.

''Dari 1.000 mahasiswa usia 18-24 yang menjadi responden, sekitar 693 orang mengatakan menonton tayangan porno melalui video compact disk (CD),''ungkap Slamet Riyadi, koordinator unit internet Pilar PKBI Jateng.

Berdasarkan hasil penelitian yang sama, dari 1.000 mahasiswa yang diteliti, 97 di antaranya mengaku pernah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.

Tanda-tanda awal remaja yang kecanduan situs porno, jelas Setyawan, antara lain rajin melakukan chatting dalam sex cyber, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menemukan pasangan sex online, aktif mencari situs porno, melakukan percakapan erotis di internet, dan memilih sex cyber daripada seks nyata.

Jika terus berlanjut, hal itu dapat mengakibatkan gangguan perilaku seperti sulit bersosialisasi dengan orang lain, kurang percaya diri.

Atau gangguan seksual seperti necrofili (hubungan seks dengan mayat, red), hemofili (hubungan seks dengan anak-anak- Red), atau homoseksual. Sebab, sejumlah situs porno menyajikan gambaran penyimpangan seksual.

Ancaman lain yang tidak kalah membahayakan bagi pelaku seks aktif adalah penyakit menular seksual seperti kencing nanah (GO), sifilis, keputihan akut, dan kanker leher rahim. (nik-73)
13 Juli 2004 - suaramerdeka.com

Kamis, 08 Maret 2007

Seks Era TI

Siapa yang tak suka (nge)seks? berbahagialah kita yang dewasa di era ti (teknologi informasi) ini. para tetua mungkin menyesal, nangis-nangis merasa lahir di zaman yang salah.

tahun 1994, situs web mulai muncul. dari situlah revolusi perhubungan kelamin mencapai puncak kebebasannya. orang yang ingin memuaskan nafsu seksualnya bisa dengan mudah dan cepat mengakses ke internet.

berbeda perkencanan konvensional yang melalui banyak tahapan lama. harus jalan ke tempat permesuman macam gang doli, pasar kembang atau silir. resikonya lebih besar, ketahuan tetangga atau biaya yang lebih besar.

kini, andai ngebet ingin ngeseks, hanya perlu sepuluh menit, keinginan itu akan terpuaskan secara sempurna. semua tersedia, tinggal online dan segalanya mungkin. tersedia tempat penghubung yang melimpah: yahoo messenger, aol, mirc, icq, gaim dan msn messenger dan web.

menit pertama, masuklah ke chanel/ room khusus di sana. dan cari nickname yang konotasinya mesum atau bisa diajak "begituan". kadang memang ada yang jelas menawarkan diri dengan memakai id cew_bispak dan semacamnya.

tak ada yang cocok atau belum menemukan, bukalah situs2 perkencanan online. tinggal searching. tentukan umur dan alat kelamin yang diinginkan dan lokasi. kliklah, akan terbentang melimpah daftar perempuan/ laki-laki tipe yang kita mau.

tak perlu cemas apakah dia cantik/tampan atau monyong. profil dan fotonya tertampang disitu dengan jelas. meskipun memang gambarnya lebih indah dari aslinya. kalau tidak tinggal minta menyalakan webcamnya. semuanya bisa lebih jelas dan "live".

perkenalan basa basi itu cukup hanya menghabiskan waktu dua menit. selanjutnya terserah mau di terusin atau cukup chatt sex, phone sex atau video sex tergantung kesepakatan. jangan lupa menyiapkan tisu basah disamping key board.

namun andai diterusin “kopi darat”, langkah terakhir yaitu menentukan tempat ketemuan. di mal, kafe atau malah bisa langsung ke tempat kost atau chek in. agar tak salah orang, mintalah no telepon yang bisa dihubungi dan memastikan baju/ celana apa yang dikenakan saat itu.

sambil nunggu, berdebar-debarlah karena tak jarang orang yang kita bayangkan berlawanan dengan yang ada dihadapi saat ini. untuk yang ini, kita layak memaki-maki perkembangan teknologi digital imaging.

nah tak sampai sepuluh menit, jika merasa cocok, kencan bisa dilakukan. sesederhana itu? ya! apalagi di kota yang permisif dan tercemar ini. (fanabis.blogsome.com)

Percintaan Alam Maya

51,43% pengakses internet mengaku pernah melakukan hubungan seksual dengan wanita lain melalui internet.

64,86% mengaku, web cam menjadi sarana yang paling sering digunakan untuk memuaskan kebutuhan biologis.

45,95% koresponden menjelaskan, selain berinteraksi seks melalui internet, pengguna cyber sex juga bertemu langsung dengan wanita penghibur alam maya.

Teknologi telah mengubah pola berhubungan seks manusia, tanpa bersentuhan fisik yaitu melalui chatting (web cam), manusia bisa memuaskan kebutuhan biologisnya.

Dengan variasi status: lajang dan menikah; pendidikan: Diploma, Sarjana dan Pasca Sarjana; penghasilan: di bawah Rp 2 juta, antara Rp 2 juta dan Rp 5 juta, dan di atas Rp 5 juta, para pengakses poling ternyata begitu berminat dengan topik poling kali ini. Mereka mengetahui betul kondisi internet dan cyber sex.

Walau belum seperti masyarakat maju, pengetahuan masyarakat Indonesia, khususnya urban terhadap internet sudah mulai meningkat, hasil poling menunjukan, usia 10 tahun pengakses poling sudah mengakses internet. Mereka mengenal internet dari teman dan keluarga. Sekitar 54.05% mereka mengakses internet di kantor, 35.14% mengakses di Warnet, 10,81% mengakses intenet di rumah. Data ini menunjukan, keberadaan internet di rumah tangga masih sedikit.

Selain membuka situs lain, pengguna internet sering membuka situs seks dan mengakses cyber sex, 64.86%. Mereka mengaku, selain menjadi hiburan keberadaan situs seks memberi pengetahuan tentang seks. Tidak itu saja, pengakses cyber sex, 45.95% mengaku mempunyai pasangan tetap.
Pengakses cyber seks, 10.81%, tidak menjadikan fasilitas ini sebagai sarana rangsangan, 54,05% mengaku, cyber sex hanya sekedar hiburan. Tidak bisa dimungkiri, 8.11% pengakses cyber sex beronani setelah mengakses cyber sex.

Berikut, sex polling untuk topik ini.

Inilah konsekuensi dari teknologi, merombak tatanan kehidupan menjadi lebih dinamis. Ruang gerak seks manusia menjadi lebih bebas tanpa batas, menemui wanita yang disukai.

1.Semenjak kapan mengenal internet?
A. Usia 10 - 17 tahun 18.92%
B. Usia 17 - 20 tahun 32.43%
C. Usia 20 - 25 tahun 40.45%
D. Usia 25 - 30 tahun 8.11%

2.Apakah setiap hari Anda mengakses internet?
A. Ya 59.46%
B. Tidak 40.81%

3.Di mana Anda mengakses internet?
A. Di rumah 10.81%
B. Di kantor 54.05%
C. Warnet 35.14%

4.Apakah Anda sering berhubungan pasangan (kekasih) melalui internet
A. Sering 10.81%
B. Tidak sering 35.14%
C. Tidak pernah 54.05%

5.Selain dengan pasangan apakah Anda pernah berhubungan seksual dengan wanita lain?
A. Pernah 51.43%
B. Tidak pernah 48.57%

6.Bila ia, fasilitas apa yang sering Anda pakai?
A. Situs pornografi 35.14%
B. Chatting (web cam) 64.86%

7.Selain pasangan, Anda mempunyai pasangan cyber sex tetap di dunia maya?
A. Ya 45.95%
B. Tidak 54.05%

8.Apa saja yang Anda lakukan dengan pasangan cyber sex Anda?
A. Memperlihatan salah satu bagian tubuh 27.03%
B. Melakukan kegiatan seperti berhubungan intim 10.81%
C. Melakukan masturbasi 35.14%
D. Dan lain-lain 27.03%

9.Apa yang Anda lakukan setelah melihat pasangan cyber sex Anda beradegan?
A. Onani 8.11%
B. Terangsang dan berhubungan seksual dengan pasangan
resmi. 10. 81%
C. Biasa-biasa saja 54.05%
D. Dan lain-lain 27.03%

10.Apakah Anda pernah bertemu dengan pasangan cyber sex Anda?
A. Pernah 45.95%
B. Tidak pernah 54.05%

Sumber: Male Emporium

Cybersex, Fantasi Seks Dunia Maya

Cybersex, alternatif seks baik bagi yang single maupun yang telah berpasangan. Keistimewaan yang ditawarkan Cybersex adalah kita tak harus menyebutkan identitas kita, bahkan kita bisa melakukan seks yang jauh lebih aman. Dimanapun kita tinggal ataupun berhubungan jarak jauh kita merasa jauh lebih dekat melalui fantasi seks di dunia maya. Cybersex menawarkan alternatif kehidupan seks baru.

Dimana kita menemukan teman chat kita?

Dunia maya bukan media yang asing lagi saat ini, banyak media chat yang memberikan layanan chat sebut saja: Instant messaging, IRC chat, Online dating services , Chat rooms, Message boards, E-mail.

Jika anda telah memiliki partner, anda tinggal mengatur tujuan atau Net yang akan anda gunakan atau bisa juga anda melakukan cybersex via e-mail.

Bagaiaman kita melakukannya?

Bukan hanya mengandalkan fantasi, berhubungan seks juga butuh media, paling tidak kita butuh sebuah mikrofon sehingga teman kencan chat kita bisa mendengar semangat anda selain bisa merasakan desahan rayuannya. Anda tak akan kesulitan meskipun hanya mengandalkan satu tangan saat mengetik.

Talk or write

Ada atau tak ada mikrofon, anda dituntun bisa lebih kreatif mengolah bahasa anda. Imajinasi adalah kunci keberhasilan cybersex. Meskipun bahasa yang kita gunakan juga tergantung teman chat kita. Beberapa wanita lebih menyukai bahasa yang kasar, vulgar, sementara yang lain lebih menyukai bahasa sopan, seperti: Kita berjalan-jalan ditepi pantai dan kau mengamati setiap langkahku dan gerak tubuhku, " sebuah pembuka sebelum anda mengawali obrolan fantasi seks.

Jika anda tak memiliki mikrofon, jangan pernah menulis kata-kata seperti: "gasp, gasp" or "oh yeah, baby, yeah!" Cobalah menjadi pengeja kata yang baik, seperti teman obrolan anda.

Mulailah dengan bertanya baju yang dia kenakan, tentu anda juga harus menggambarkan diri anda (jika anda tak memiliki kamera anda bebas mendiskripsikan diri anda sesuka anda). Kemudian mulailah percakapan, biarkan pasangan anda mengawali fantasinya, kemudian giliran anda melanjutkannya, usahakan tetap saling berbalasan sampai anda berdua merasakan layaknya berhubungan seks dalam fantasi anda.

Touch yourself

Anda bebas melakukan apapun dalam cybersex, cobalah mencurahkan seluruh obrolan anda kedalam sebuah adegan dan larut dalam fantasi anda. Mungkin pertama terasa konyol saat melakukan masturbasi dengan sebuah komputer, namun semua anggapan itu akan sirna seketika dan membuat anda hanyut dalam fantasi, sebuah pengalaman yang menakjubkan.

Jika dia tak bisa melihatmu, tapi anda memiliki mikrofon, bernafaslah dengan berat, agar dia tau apa yang anda rasakan dalam fantasi anda, katakan padanya apa yang sedang anda lakukan atau ceritakan padanya apa yang anda lakukan padanya dalam fantasi anda.

No Mic, No Cam

Tak perlu khawatir jika anda tak memiliki kamera ataupun mikrofon, untuk menghindari kebosanan melakukan masturbasi dengan satu tangan dan tangan yang lain memencet tuts-tuts keyboard, mintalah padanya untuk menulis imaginasinya dan anda bebas memuaskan dirianda sendiri, jika anda telah mencapai klimaks, lakukan giliran anda dan biarkan dia melakukan gilirannya.

Bisa dibilang cybersex alternatif pemuas seks yang mudah namun juga sulit dilakukan jika kita tak memiliki seorang teman chat yang benar-benar kita yakini. Anda tak pernah berjumpa dengan teman chat anda sebelumnya tentu anda tak ingin chat dan berfantasi seks dengan seorang pria bukan? Banyak sekali pria yang menyamar menjadi seorang wanita, di Dunia Maya, apalagi jika dia tak memiliki media pendukung seperti mikrofon ataupun wecamb.

Hal yang perlu anda ingat:

*Rahasiakan jatidiri anda -- jangan pernah sekalipun menyebutkan data diri anda

*Jangan jadikan kebiasaan -- jangan pernah menjalin hubungan nyata dengan seorang wanita di Dunia maya

*Jika anda telah menyerahkan fantasi anda sepenuhnya, dunia maya menawarkan anda kebebasan beralih menjadi pribadi yang lain.

So, jangan pernah lepaskan tangan anda dari tuts keyboard, nikmati petualangan seks di dunia maya, welcome to cyberia. (xxx) - harubiru.blogspot.com

Kecanduan Seks Cyber

Kecanduan seks cyber telah menjadi sebuah sub-tipe yang spesifik dari kecanduan internet. Diperkirakan bahwa satu di antara lima pecandu internet terlibat dalam suatu bentuk aktivitas seksual online (terutama melihat pornografi cyber dan/atau terlibat dalam seks cyber). Beberapa penelitian terdahulu di luar negeri menunjukkan bahwa para pria memiliki kemungkinan lebih besar untuk melihat pornografi cyber, sementara para wanita memiliki kemungkinan lebih besar untuk terlibat dalam chatting erotis.

Tanda-tanda awal kecanduan seks cyber :

1. Secara rutin menghabiskan jumlah waktu yang bermakna dalam ruang-ruang chatting dan pesan pribadi dengan tujuan utama menemukan seks cyber.

2. Terlalu asyik menggunakan internet untuk menemukan pasangan-pasangan seks online.

3. Secara sering menggunakan komunikasi anonim untuk terlibat dalam fantasi-fantasi seksual yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan nyata.

4. Mengantisipasi sesi online yang berikutnya dengan harapan bahwa dirinya akan mendapatkan rangsangan ataupun pemuasan seksual.

5. Menemukan bahwa dirinya sering berpindah dari seks cyber menjadi seks lewat telepon (atau bahkan pertemuan-pertemuan dalam dunia nyata).

6. Menyembunyikan interaksi-interaksi online dari pasangan.

7. Merasa bersalah atau malu atas penggunaan interaksi online.

8. Pada awalnya, seseorang secara tidak sengaja terangsang oleh seks cyber, namun kini, ia menemukan bahwa dirinya secara aktif mencari seks cyber ketika sedang menjelajah di internet.

9. Melakukan masturbasi sambil online, ketika terlibat dalam suatu chatting erotis.

10.Mengurangi interaksi dengan pasangan seksual dunia nyata, dan lebih memilih seks cyber sebagai bentuk pemuasan seksual utama.

Kecanduan seks cyber sering dialami oleh orang-orang yang tidak percaya diri, dan orang-orang yang mengalami distorsi citra tubuh yang berat, disfungsi seksual yang tidak diobati ataupun menderita kecanduan seks (sexual addiction atau internet compulsif disorder). Khususnya pada para pecandu seks, mereka seringkali beralih kepada seks cyber sebagai suatu bentuk seksual yang baru dan aman untuk menyalurkan hasrat seksual mereka, tanpa perlu membayar semahal bila mereka menggunakan telepon seks, tertangkap basah dalam toko buku khusus orang dewasa, ataupun tertular Penyakit Menular Seks (PMS) karena berhubungan seks dengan seorang Pekerja Seks.


Memahami Penyebab Kecanduan Seks Cyber

Saat ini, pemuasan hasrat seksual melalui internet lidak hanya dialami oleh orang-orang yang berperilaku seksual menyimpang, namun mereka yang sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal dan psikiatri pun telah terlibat dalam perilaku seperti ini. ACE Model of Cybersexual Addiction digunakan untuk menjelaskan bagaimana internet telah menciptakan sebuah iklim budaya permisif, yang mendorong dan mensahkan perilaku-perilaku seksual menyimpang.

Banyak yang percaya bahwa alasan utama seseorang melakukan tindakan seksual online adalah untuk pemuasan hasrat seksual. Sebagai contoh, seorang wanita yang kesepian tiba-tiba merasa bergairah oleh sekian banyak pasangan cyber-nya, atau seorang pria yang tidak percaya diri secara seksual berubah menjadi seorang kekasih cyber yang membara dan diinginkan oleh seluruh wanita di ruang chatting. Pengalaman-pengalaman ini bukan hanya memberikan pemuasan hasrat seksual, melainkan juga telah menjadi tempat pelarian mental yang subyektif, yang diperoleh melalui perkembangan kehidupan fantasi online di mana seseorang mengadopsi sebuah kepribadian dan identitas yang baru.

Gender secara signifikan juga mempengaruhi cara seseorang memandang seks cyber. Para wanita seringkali memilih seks cyber karena cara ini dapat membantu menyembunyikan penampilan fisik dan menghilangkan stigma sosial bahwa para wanita tidak boleh menikmati seks, serta memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi pada seksualitas mereka dengan cara-cara yang baru, aman dan tanpa batasan. Para pria umumnya memilih seks cyber karena cara ini dapat menghilangkan kegelisahan akan kemampuan seksual mereka, yang mungkin menjadi penyebab ejakulasi prematur atau impotensi, serta membantu menyembunyikan penampilan fisik pria-pria yang merasa tidak pede mengenai kebotakan, ukuran penis atau berat badan.

Para individu yang paling rapuh tampaknya adalah mereka yang rendah diri, menderita distorsi citra tubuh yang berat, disfungsi seksual yang tidak diobati atau riwayat kecanduan seksual sebelumnya.

Bagaimana dengan anda...?
ACE Model memeriksa anonimitas interaksi-interaksi online yang meningkatkan perilaku seksual menyimpang tersebut dan kemungkinan tersedianya pornografi dunia cyber dengan mudah untuk para pengguna, yang akhirnya menjadi tempat pelarian untuk ketegangan mental dan memperkuat pola perilaku yang mengarah pada kecanduan.

Transaksi-transaksi elektronik yang anonim membantu para pengguna merasa memiliki kendali lebih besar terhadap isi, corak dan sifat dari pengalaman seksual online. Tidak seperti pengalaman-pengalaman seksual di dunia nyata, seorang wanita dapat dengan cepat berganti pasangan jika pasangan cyber-nya tidak memuaskan atau seorang pria dapat langsung 'cabut' setelah mencapai orgasme tanpa perlu mengucapkan selamat tinggal. Namun, bagaimana jika seorang pria secara diam-diam ingin mengetahui bagaimana rasanya berhubungan seks dengan sesama pria? Atau bagaimana jika seorang wanita ingin mencoba melakukan hubungan seks dalam keadaan terikat?
Dalam konteks anonim dunia cyber, pesan-pesan seksual konvensional telah ditiadakan, sehingga para pengguna dapat mewujudkan fantasi-fantasi seksual mereka yang terpendam tanpa ketakutan diketahui oleh orang lain. Bagi siapapun yang merasa penasaran tentang hubungan seks dalam keadaan terikat, seks berkelompok atau homoseksualitas, seks dunia cyber menawarkan cara yang aman, pribadi dan anonim.
Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab lebih cenderungnya para individu melakukan eksperimen seksual mereka melalui seks cyber.
Dunia industri memperkirakan bahwa pada bulan April 1998 saja, sekitar 9,6 juta orang (15% pengguna internet) mengunjungi 10 situs seks paling populer. Terdapat sekitar 70.000 situs yang berkaitan dengan seks, dengan kira-kira 200 situs baru, yang menyertakan pornografi dan ruang-ruang chatting interaktif, ditambahkan setiap harinya (Schwartz, 1998). Menjamurnya ruang-ruang chatting yang berorientasi seksual, telah menyediakan suatu sarana yang mendorong seseorang melakukan eksplorasi.
Seorang suami atau istri yang penasaran, lalu secara diam-diam memasuki "Ruang Fetish" atau "Ruang Bisexual", pada awalnya mungkin kaget dengan dialog-dialog yang erotis. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka juga terangsang secara seksual. Kemudahan fasilitas ini juga telah membantu mempromosikan eksperimen seksual di kalangan mereka, yang dalam keadaan normal tidak akan terlibat dalam perilaku seksual seperti itu.
Namun, sejumlah penelitian telah memperlihatkan bahwa rangsangan seksual mungkin pada awalnya merupakan alasan seseorang untuk terlibat dalam seks cyber, namun, seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman tersebut kemudian berubah menjadi tempat pelarian dari ketegangan mental-emosional maupun keterbatasan diri. (dr. iwan) http://dokteriwan.blogspot.com
 
 
Blogger Templates